Rabu, 13 September 2017

MENDENGAR ADA BISIKAN

MENDENGAR ADA BISIKAN
#Prawira Jayadarma Sastragusti

***
Angin terus berhembus, menjadikan kesejukan seakan-akan berdesakan pada tiap rongga pori-pori.
Gadis masih saja romantis bersama imajinasi.
Penanya terus bergoyang lincah, mengikuti alunan tangan yang mengirama, hingga membekaskan jejak-jejak goresan karenanya.
Bekas jejaknya menyisakan garis-garis cerita, berupa untaian kata-kata yang berjejer membentuk barisan rapi.

Gadis terhenti menulis, kemudian hendak membaca apa yang telah tercatatnya.
"Apa ini..?!!!" Gadis sontak kaget lantas tersenyum sendiri.
"Kok malah menulis kaya gini" sahutnya sedikit keheranan, mengapa bisa pikirannya melayang pada dunia imajinasi yang nyatanya masih ngambang.
Karena sadarnya, Gadis merasa dirinya masih terlalu muda untuk itu.
Gadis senyum-senyum sendiri, lalu terhening...

"Segala Puji Untuk-MU Ya ALLAH. Kuasa-MU-lah yang memberiku Akal.
Atas Kuasa-MU pula Aku mampu berfikir.
Ya Rabb..
Hanya ENGKAU-lah Tuhan ku,
Aku berlindung hanya Kepada-MU.
Aku berharap selalu tetap pada Jalan-MU yang lurus.
Amiiiinnn... " Do'a Gadis panjatkan seraya menengadahkan kedua telapak tangan, sebagai ucapan syukur.

(Tunggu lanjutan ---!!!)

Senin, 28 Agustus 2017

GADIS PUJAAN

GADIS PUJAAN
#Prawira Jayadarma Sastragusti

***
NIAT - Semuanya berawal dari sini, berasal dari Tuhan, kemudian menjadi nyata karena adanya tindakan sebagai ikhtiar perwujudannya.
Sesuci-sucinya niat, semurni-murninya do'a, sebaik-baiknya ikhtiar.
Tentang semesra apa bersama kebenaran, serta tentang setangguh apa pendamaian hati dengan pikiran.

"Pagi dunia... Dengan menyebut nama Allah, Aku pasti berusaha ceria dan bahagia sepanjang hari ini". Sapaan pertama beriring do'a dari Gadis setiap menyambut pagi.
Kebiasaan kecil ini telah cukup lama Gadis latih. Dengan menyimpan harap, menjadi pacu semangat menjalani seluruh aktivitas setiap hari dengan baik.

"Apa Kau mengenal Aku.?!!" Tanya Gadis sambil menatap cermin. Tergambar percis fisik sebagai mana aslinya.
"Bukankah Aku ini Gadis" Tambahnya, yang lalu tersenyum manis.
Gadis, demikian sapaan akrab bagi remaja yang memiliki nama lengkap 'Gadis Sastra Purbasari'. Sosok remaja anggun yang memiliki paras begitu cantik, bertutur kata lembut, sopan-santun, murah senyum, serta pandai menjaga diri.

Gadis tumbuh sebagai remaja desa yang begitu dipuja.
Bersama hijabnya, Gadis tak lekas menyombongkan diri.
"Segala Puji Bagi Allah, tiada hak untukku angkuh atas segala nikmat ini" Begitulah sahut dari Gadis, setiap ada orang yang memuji.
Bagi Gadis, setiap manusia diciptakan atas kesempurnaan-Nya. Setiap pembeda, apapun itu nilainya, disitulah terletak nilai sempurna.
Karena sejatinya, manusia memang dicipta tidak dengan sama percis, sekalipun kembar. Tiadalah kekurangan suatu apapun bagi dia yang pandai bersyukur.

"Benarkah ini Aku, Gadis..?!!" Gadis bertanya kembali, dengan mimik wajah mengekspresikan orang yang sedang kebingungan.

Gadis dengan keanggunannya, bagaikan magnet yang membuat kaum adam tertarik untuk melirik. Keanggunannya pula, membuat banyak orang terajak menaruh harapan besar dapat dekat serta akrab. Begitulah, alasan mengapa Gadis kemudian dijuluki 'Sibunga Desa'.

"Benarkah... Atau bahkan Aku salah, lalu siapakah ini....?!!" Semakin dalam tanya gadis, bersama dahinya yang semakin dikerut. Rupanya semakin dalam telaah Gadis, untuk kian memahami dirinya sendiri.

Gadis adalah remaja yang mempunyai kemantapan prinsip, sosok remaja cerdas yang selalu mesra dengan imajinasi.
Bagi Gadis, bersama imajinasi, harinya kian berwarna.
Tidaklah sembrono, selalu ada dasar serta pertimbangan. Gadis memanfaatkan setiap pemahamannya yang didapat dari hasil belajar otodidak, kajian keilmuan, serta pembelajaran lain yang digelutinya. Dari sinilah tertumpuk berbagai pengetahuan serta gambaran untuk menjalani kehidupan, menghabiskan waktu untuk bertahan hidup, beriring pengumpulan bekal untuk mati.
Gadis juga sosok yang unik, kehidupannya bak bagaikan sebuah teka-teki, hal yang tak jarang membuat banyak orang menggeleng-gelengkan kepala, karena tak mampu memecahkannya, tak mampu memahami dan menyelaminya.

Petualangan berkawan imajinasi merupakan kebiasaan hidup yang paling digandrungi.
Gadis senang menjajaki tempat-tempat yang baginya unik, tertarik dan juga tempat-tempat yang menantang.
Mungkin, inilah hobi.!!!

Seketika Gadis tersenyum manis, ketika melihat dirinya telah rapi pada cermin berbentuk oval yang tertempel didinding kamarnya.
Gadis selalu menyempatkan waktu menatap diri, menghapal setiap bagian tubuh terutama wajah, seraya melakukan renungan dan telaah. Demikian, Gadis merasa akan mampu memahami dirinya sendiri, walau tidak seutuhnya.

Sebelum Gadis menatap diri dihadapan cermin. Beberapa waktu kebelakang, Gadis sibuk dengan persiapannya untuk petualangan hari ini. Buku catatan yang selalu romantis bersama sang pena kesayangan telah terselip rapi dalam ransel outdoor-nya, persiapan penting lainnya pun senantiasa dilengkapi.
"Akhirnya hampir selesai... " Ucap Gadis sambil mengelap keringat yang membasahi dahinya.

Merasa siap, Gadis pun mulai beranjak. Langkah kaki membawanya keluar dari sarang -istilah yang diberikan ibu untuk kamar gadis, karena senang berdiam lama disana- , menapaki setiap anak tangga yang membawanya turun kebawah.

Gadis mendekap dua buah tangan yang lalu diciumnya.
"Bu... Gadis mohon ijin, mau pergi keluar dulu..!!!" Pinta Gadis dengan lembut pada ibunya, sembari dibumbui senyuman manis.
Mau ngapain memangnya dis...?!!!" Jawab Ibunya bernada waswas, disertai mengerutkan dahi keheranan.
"Biasa Bu... Membuang kejenuhan saja.!!!" sahut Gadis meyakinkan.
"Ya sudah... Hati-hati, Jaga diri baik-baik.!!!". Mencoba mengijinkan, walaupun sebetulnya masih merasa berat hati. Apalagi lagi akibat tidak mengerti, apa yang sebetulnya akan dilakukan oleh Gadis.
Gadis menganggukan kepala seraya melangkahkan kaki keluar rumah.

"Akhirnya sampai juga..." Ucap Gadis dengan nafas ngos-ngosan, setibanya menemukan tempat yang dirasanya nyaman.
Gadis langsung mengikatkan hammock -Tempat tidur gatung serupa dengan ayunan yang digantungkan kedua ujungnya- pada kedua pohon besar, lantas berbaring melepas rasa lelah diatasnya.
Keringat bercucuran membasahi wajah Gadis, hingga beberapa kali diusapnya menggunakan saputangan.

Dalam diam, mata Gadis menatap pepohonan rindang, dahan-dahannya seperti tangan yang menari mengikuti irama angin. Beberapa daun dan ranting kering terjatuh, suara hembus angin begitu merdu terdengar, Gadis lalu tersenyum.
Dalam hati, Gadis berucap "Maha suci Tuhan atas segala ciptaan-Nya, sungguh kenikmatan ini amat patut aku syukuri".

Kesejukan kini menyapu gerahnya, cucuran keringatpun terhenti.
Gadis lalu terpejam keheningan, menikmati setiap angin yang terasa disetiap bagian tubuhnya.
Tak lama matanya pun terbuka, kembali menatap kearah langit, melihat awan-awan putih sedang berjalan menguntai.
Semakin dalam telaah atas setiap nikmat, semakin besar kesadaran yang sepatutnya Gadis syukuri.
"Maafkan Aku Tuhan... Tak jarang Aku abai menyadari dan mensyukuri setiap nikmat-Mu". Gadis tersadar betapa tak pantas jika dirinya harus mengeluh, amat tak pastas lagi kalau-kalau mendakwa bahwa Tuhan tak adil.
Tak pantas, sungguh amat sangat tak pantas.
Semacam itu hanya dilakukan oleh hamba Tuhan yang patut dibilang hampir tak waras. Karena bagaimanapun kejadiannya, masih lebih berat nikmat yang Tuhan berikan pastinya, apabila ditimbang dengan masalah apapun yang menimpa manusia sebagai pembandingnya.
Sungguh, hanya tinggal penyadaran diri saja, manusia akan dapat melihat nikmat yang benar-benar nyata.

Suasana ini tak henti-hentinya merayu Gadis senantiasa tersenyum manis.
Ketenangan inilah dunianya, kenyamanan ini pula lah bahagianya.
Gadis turun mengambil buku catatan beserta pena, lalu berbaring kembali diatas Hammock-nya.

Gadis sejenak menenangkan diri, merasakan seluruh tubuh jasmaninya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Fokus itu semakin dikuatkannya untuk masuk arena fantasi dunia imajinasi.
Lantas, Gadis berdiam menyelaraskan pikiran dan hati.

Hasrat Gadis mulai matang untuk menulis, kata demi kata mulai diuntainya...

"Ku goreskan pena ini untuk kau buah hatiku.
Akan ku tuntun kau nanti mengeja kata demi kata.
Sampai suatu saat kau mulai pandai membaca.
Hingga saat,
Ketika aku tak mampu lagi menatap setiap keindahan bumi ini.
Kau yang akan menjadi mata, mewakili penglihatanku.
Ketika aku tak mampu lagi mendengar merdunya bisikan angin.
Kau mewakilinya dengan menjadi telingaku.
Kau harapan terbesarku.
Kan ku tuntun kau menjadi manusia luar biasa.
InsyaAllah."

***

(Lanjut ke - Judul berikutnya..!!!)